Sebuah kota yang tidak terlalu besar, dalam waktu kurang dari sehari sudah bisa menjelajah kemana-mana. Suasananya nyaman karena disinilah aku bisa merasa akrab dan tenang bersama dinamika kehidupan orang-orang disekitarnya. Entah mengapa selalu ada rasa rindu yang cukup mendalam bila datang ke kota ini, semua yang ada disini memang tidak seperti dahulu lagi. Kala itu di depan rumah kakekku ini terhampar luas dan lapang alun-alun yang hijau rumputnya, pepohonan besar dan rimbun mengelilinginya dan biasanya menjelang sore ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar untuk melepas lelah, sekedar jalan-jalan, olahraga sore dan pastinya dipenuhi juga oleh bermacam pedagang yang mencoba mengais rezeki disana.
Aku dan adik perempuanku biasanya akan meminta ayah untuk menemani kami mengelilingi alun-alun tersebut karena biasanya ibu sedang berharu biru di rumah masa kecilnya itu bersama kakek dan nenek sehingga kami merasa enggan untuk mengganggu nostalgia sesaatnya itu. Selain itu kami senang berjalan-jalan dengan ayah karena selama berkeliling itu biasanya ayah menceritakan kenangannya juga tentang kota yang mempertemukan mereka berdua, ayah dan ibu suatu ketika dahulu. Ayah biasanya bersemangat dan selalu menceritakan secara detail peristiwa-peristiwa yang pernah dilaluinya di kota ini. Lucu dan menakjubkan bagaimana kedua insan ini bisa dipertemukan oleh Allah Ta’ala. Cinta memang indah dan suci, dan dari mereka berdua aku lahir ke dunia ini dan aku sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala lahir dari kedua orang yang tak akan pernah habis kukagumi ini.
Ayah bercerita bahwa dahulu dia berjumpa dengan ibuku secara tidak sengaja, dan pastinya karena takdir Allah bukan. Ayah adalah seorang pegawai negeri yang selalu pergi dari satu kota ke kota yang lain untuk menunaikan tugas memeriksa beberapa instansi yang ditugaskan kepadanya. Dan di salah satu sudut kota ini, dia menemukan cintanya pada seorang wanita yang baru lulus SMA, seorang gadis cantik yang memiliki rumah tidak jauh dari tempat ayahku bekerja. Tidak langsung bertemu, bahkan ayah sempat pergi bertugas ke kota lain namun ketika ditugaskan kembali ke kota itu ayah selalu teringat kepada gadis cantik tersebut. Cinta memang menggoda dan kejutannya tidak tertahankan.
Selama bekerja di kota itu ayah pun berusaha mencari keterangan tentang siapa gerangan gadis tersebut dan rupanya dia adalah seorang anak dari kepala sekolah dasar di daerah tersebut. Seorang kepala sekolah mantan tentara, veteran perang kemerdekaan, badannya tegap, jalannya cepat dan rambutnya tercukur rapih tetap mengesankan dia adalah pribadi yang disiplin dan pernah ditempa oleh militer. Ayah mengatakan dia sempat gugup ketika tahu dia adalah ayah dari gadis cantik tersebut.
Bukan ayahku kalau tidak berani, dia tetap berusaha melakukan pendekatan dan samapi pada suatu saat Allah menjawab semua harapan ayah. Alhamdulillah ayah adalah orang yang dekat dengan agama dan tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu dan selama mampu dia akan selalu shalat berjama’ah di masjid. Di masjid agung kota ini, bersebelahan dengan kantor yang ayah periksa dan bersebelahan juga dengan sekolah dan rumah gadis cantik tersebut, ayah dengan seizin Allah berjumpa dengan ayah dari gadis cantik tersebut. Mereka berbincang dan berdiskusi tentang banyak hal, alhamdulillah ternyata mereka nyambung dan ayah serasa menemukan sebuah jalan untuk menuju sang pujaan hati.
Hari-hari berlalu dan ayah pun mengutarakan maksudnya untuk meminang sang gadis kepada ayahnya, dan tanpa diduga kakekku sudah tahu maksud ayah dari awal dan tanpa berbasa-basi dipersilahkan dan akan ditanyakan dahulu kepada sang anak, gadis cantik itu dan jika setuju ayah boleh datang ke rumahnya. Dan tak berapa lama ayah dipersilahkan datang kesana. Subhanalloh, kejutan yang menakjubkan.
Ayah masih gugup, dan untuk menemui sang gadis ayah mengajak kakek angkatku dari Bekasi untuk menemaninya dan meminta penilaian dari orang yang dianggap guru kehidupan ayahku itu untuk memberikan pendapat tentang gadis cantik tersebut. Lalu ayah dan kakek angkatku pun datang, mereka dijamu layaknya saudara jauh yang baru datang, makanan serba ada dikeluarkan dan bermacam-macam. Tampak matang persiapannya pikir ayah. Mereka, ayahku, kakek angkatku, ayah dan ibu sang gadis, dan beberapa saudara duduk di ruang tamu sambil berbincang dan memakan makanan yang tersedia. Lalu sampailah saat yang ditunggu ketika sang gadis dipanggil oleh ayahnya keluar untuk dipertemukan dengan orang yang akan meminangnya. Ayahku berkata ia merasa sangat gugup dan berkeringat dingin saat itu, kami berdua tertawa kecil karena ayah sangat ekspresif menceritakan kejadian penting itu. Kenapa penting? Karena itu akan menentukan cerita selanjutnya tentang aku, lahir atau tidaknya aku ke dunia.
Ayah semakin terpesona dan secara tiba-tiba kakek angkatku menarik ayah keluar dan mengatakan, “gadis seperti itu tidak ada dua di dunia ini (hiperbola banget gak sih, hehe), sebaiknya kau cepat nikahi sebelum orang lain meliriknya!”. Ayahku terkejut bukan main, namun ternyata keputusan akhir tidak terjadi pada saat itu karena sang gadis meminta waktu kembali untuk berpikir setelah bertemu langsung dengan ayah. Wah, ayah sempat berpikir negatif saat itu katanya dan ia merasa sedikit lemas.
Semenjak peristiwa perkenalan tersebut ayah jadi sering datang ke kota itu, meski tidak ada pekerjaan kesana, ia menaiki bus dari leuwi panjang menuju kota itu dan perjalanan ( sabar ya lagi edit)

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini